Kamis, 24 Maret 2011

Kebodohan Universal


Innalillahiwainnailaihi rojiun......

Waktu begitu cepat berlalu dan berganti.... berkurang sudah waktu yang saya miliki untuk mengabdi kepadaNya… Dan besok jika Allah menghendaki, usia saya bertambah lagi, yang berarti jatah umur saya di dunia ini terus berkurang dan semakin dekat waktu perjumpaan saya dengan Sang Pemilik Kehidupan.

Ada rasa yang berbeda saat menghadapi ulang tahun saya kali ini...
Rasa yang tidak sama seperti yang saya rasakan di tahun-tahun sebelumnya, sebelum saya mulai memahami arti hidup dan tujuan Allah menciptakan saya di dunia ini.

Dulu saya gembira sekali ketika menyambut detik-detik bergantinya hari dan memasuki tanggal 8 Maret! Karena saya ulang tahun!

Biasanya saya mempersiapkan suatu acara, mengundang teman-teman, meniup lilin, makan-makan dan saya mendapatkan ucapan selamat serta hadiah-hadiah indah dari mereka, waktu terus beranjak sore bahkan malam, kemudian, selesai....
 
Tanpa sedikit pun bermaksud mengurangi rasa hormat, cinta, dan terima kasih saya atas perhatian dan kasih sayang mereka, setelah acara usai saya merasa tidak mendapatkan 'kesadaran' apa-apa yang meningkat dan membuat saya semakin taat pada Dzat yang menciptakan saya! Tentu kesalahan ini terletak pada saya!

Beberapa tahun terakhir setelah saya belajar dan mulai memahami tujuan hidup saya yang sebenarnya, rasa inilah yang saya rasakan sekarang... Rasa di mana saya merasa 'khawatir dan sedih' setiap saya menghadapi ulang tahun saya. Khawatir karena saya merasa rentang waktu yang berjalan masih belum membuat saya cukup memiliki banyak 'bekal' yang akan saya bawa ketika menghadap kepada Tuhan saya....

Sedih karena saya belum juga mampu membuat  jiwa ini putih bersinar bahkan mengkilat karena terlalu banyak kelalaian dan pelanggaran yang saya lakukan terhadap Allah dan orang-orang di sekeliling saya.
 
Apa yang bisa saya banggakan di hadapanNya?

Suatu hari saya membaca buku Sentuhan Kalbu yang ditulis oleh Ir Permadi Alibasyah, di mana salah satu tulisannya membuat saya tercenung dan tersadar hingga hari ini....
Dalam buku itu tertulis kalimat-kalimat seperti ini….

Ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan bersama, karena jangan-jangan, karena kesibukan kita, kita masuk dalam kelompok orang yang merugi, yaitu orang yang membuang-buang percuma sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
 
Jika ada seorang pemuda mendapat warisan banyak dari orang tuanya, tetapi kemudian ia membelanjakannya tanpa perhitungan, bagaimana pandangan kita? Pastilah kita akan menyayangkannya, dan menganggap pemuda itu sebagai orang yang bodoh.
 
Sekarang marilah kita perhatikan diri kita, jangan-jangan kita lupa kalau kita sendiri pun tanpa disadari, sering kali bersikap seperti yang dilakukan pemuda itu. Kita acapkali menghabiskan MODAL yang paling bernilai yang kita miliki, hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak berarti.
 
Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi, itulah USIA!
 
Seorang bijak mengutarakan keheranannya: “Aku heran terhadap orang yang menyambut dunia yang sedang pergi meninggalkannya, tetapi malahan berpaling dari akhirat yang sedang berjalan menuju kepadanya.”
 
Kadang kita heran juga dengan sikap kita sendiri. Kenapa kita mudah menangis bila harta benda kita berkurang, sebaliknya tidak pernah menangis bila usia kita berkurang?
Bukankah tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia selain usianya?
 
Ironisnya lagi, kehilangan usia ini malahan kita rayakan dengan sesemarak mungkin. Barangkali inilah satu-satunya KEBODOHAN manusia yang bersifat UNIVERSAL, yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya. Padahal semua orang mengerti bahwa yang hilang ini benar-benar menguap dan tidak akan pernah menjadi milik kita lagi......

Tulisan dalam buku itu benar-benar membuat  saya tersadar bahkan mengakui betapa bodohnya saya. Ternyata saya sering kali salah memaknai momen berharga ini (di mana hakikatnya kematian saya semakin dekat) bukan kesadaran yang bertambah namun kesia-siaan yang saya lakukan.

Sahabat  taat, tentu tulisan saya ini tidak bermaksud untuk menyalahkan diri saya sendiri dan terus bersedih karena sudah melakukan kesalahan, justru tulisan ini adalah introspeksi bagi diri saya untuk selanjutnya saya bisa lebih bijak dalam menghadapi dan menyikapi momen ulang tahun ini.

Berkumpul dengan sahabat dan orang-orang yang kita cintai, meniup lilin atau makan-makan pada hari ulang tahun sebagai rasa syukur, tentu saja boleh namun tidak perlu berlebihan atau dirayakan dengan meriah.

Gunakan momen ini untuk suatu yang lebih penting bagi keselamatan diri kita di ‘alam berikutnya’, introspeksi, temukan kesalahan-kesalahan pada diri, kemudian perbaiki, tingkatkan kesadaran dan ketaatan kita kepadaNya. Sehingga waktu yang kita miliki bisa kita konversikan menjadi amal saleh alias pahala.

Pernah juga seorang bapak pengajar  pelatihan ‘buka hati' yang pernah saya ikuti mengatakan begini: “Begitu seorang bayi manusia lahir, timer-nya otomatis disetel pada jatah maksimal usianya di dunia dan mulai berjalan mundur. Timer itu akan berdering setiap hitung mundur 365 hari menuju final....”

So, should we celebrate the ‘ring’?

Jika hari ini sahabat taat ada yang berulang tahun, saya ucapkan selamat!

Selamat mengisi waktu yang masih Allah berikan untuk meraih cinta dan SurgaNya, semoga semakin bertambah kesadaran untuk  menambah 'bekal' yaitu amal shaleh....

O ya, jangan lupa meminta maaf pada orang tua kita, anak-anak dan suami/istri kita (buat yang sudah menikah) pada momen spesial ini,  jika sampai bertambahnya usia kali ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan selama kita mendampingi mereka.... akuilah dengan tulus semua itu, peluk mereka erat-erat.... dijamin! Mereka pasti memaafkan dan mendoakan kita! Karena merekalah orang-orang yang paling dekat dan memahami kita... dan itu terbukti! Karena saya sudah melakukannya.

Sahabat taat, selamat merenung dan memahami momen ulang tahun ini.

Semoga bermanfaat.

Ditulis pada tanggal 7 Maret 2011
Bundi Ninik

2 komentar:

  1. Bundi, sharingnya membuat hati bergetar ... betul sekali ... usia sudah senja tapi tidak juga menyadari hal hakiki dari kelahiran manusia di dunia ... yaitu rela diatur oleh ketetapanNya.

    Tadinya mau di post besok, tapi berubah pikiran ... sekarang aja ahhh hehehe, thank you Bundi

    BalasHapus
  2. Nikkkkkk.......setuju bangetttt....... luar biasa.....
    kalau teteh malah setiap kali mendengar adzan maghrib selalu menakutkan..... karena 1 hari ini kembali berlalu..... dan apa yang sudah teteh persembahkan untuk Allah sebagai tanda cinta dan taatku padaNya.....?

    Astaghfirullahal adzim..... wa atubu ilaihi...

    I love you Allah.......

    BalasHapus