(Note ini hanya ungkapan bahagia saya, yang saya yakin di antara Anda yang membaca ini ada yang jauh lebih sering berkunjung ke tanah suci, dengan memiliki pengalaman indah masing-masing. Dengan segala rendah hati, maafkan kalau ada yang kurang berkenan.
Bismillahirrahmanirrahim.....
Bandung, Minggu, 20 Maret 2011... Pkl. 03.45
Seperti hari Minggu biasanya, setelah Tahajjudku malam itu, tersungkur aku bersujud di sajadah kesayangan.
Sajadah yang menjadi saksi bisu doa-doa dan rintihan harapanku padaNya. Yang mendengarkan semua pengakuan dosa-dosaku...dan lantunan sujud syukurku.
Di sajadah itu aku bersujud, takuuut...
Takut itu sujud terakhir pagi itu dirumahku.
Takut karena akan meninggalkan harta terbesarku yaitu Amir, Zahran, dan Faza, tiga belahan jiwaku.
Takut Allah menolak kunjunganku karena aku merasa tidak pantas ke rumahNya.
Air mata seperti suliiit untuk ditahan, begitu aku istighfar.. Menyampaikan niat di hati yang paling dalam, bahwa niatku ke sana hanya untuk ibadah semata, memohon Ridho Allah dan mohon ampunan atas semua dosa-dosaku.
Umroh , 2011
Ini bukan perjalanan ibadahku ke tanah suci yang pertama.
Tahun 1995, Ibadah Haji, Alhamdulillah sudah dijalani bersama keluarga besar. Masih kuliah, belum menikah.. dengan bekal ilmu yang sangat minim.. rasanya saat itu jauh dari maksimal.
Tapi kali ini, kembali aku ke tanah suci bersama suami tercinta. Dengan peran yang lebih besar, sebagai anak, istri, ibu, menantu, dan jelas sebagai hamba Allah yang makin hari rasanya makin banyak dosa.
List doa sudah rapih tertata di benakku. Sejak berbulan-bulan lalu. Sejak keinginan umroh begitu kuatnya tertanam di hati.
*Flashback: Beberapa bulan terakhir sejak keinginan umroh bersama suami begitu kuatnya, setiap selesai Tahajjud, menjelang azan subuh aku membaca Al Qur’an. Disebelah Al Qur’an, sengaja aku jejer brosur-brosur umroh dari berbagai travel. Di tengah-tengah mengaji biasanya mataku melirik brosur itu sambil tersenyum, yakin, kalau Allah tidak mungkin tidak mengizinkan aku ke tanah suci.. entah bagaimana caranya pokoknya aku yakin akan berangkat ke sana! Lalu mataku kembali lagi meneruskan membaca kalam-kalam Ilahi..
21 Maret 2011,
Pukul. 02.00 Masuk kota Madinah... Ustd. Budi Prayitno membimbing jamaah di dalam bis dengan lantunan Shalawat..
Yaa Nabi Salam Alayka...
Yaa Rosul Salam Alayka...
Beliau menceritakan sejarah, perjalanan hidup dan perjuangan Rasulullah.. Beliau menyampaikan, mengingatkan agar selama 3 hari (saja) kita di sana, jangan sampai kita mengecewakan Allah dan Rasulullah... Subhanallah, aku pribadi sangaaat termotivasi. Harus memberikan ibadahku yang terbaik di sini dan seterusnya hingga akhir hayatku, karena aku tidak ingin mengecewakan Allah dan Rasulullah. Amiiiiin...
Masya Allah... merinding, terharu, menangis.. tanpa sadar mulut ini berucap, "Yaa Muhammad Yaa Rasulullah... saya rinduuu padamu... kerasa ngga rindu saya padamu Yaa Muhammad Yaa Rasulullah..." Sesak dada ini, takjub akan keindahan Masjid Nabawi yang padahal baru menara kecilnya saja yang kelihatan.
Tiba-tiba suami memegang tangan dan merangkul, "Terima kasih ya hon..."
Subhanallah... hanya Allah yang tahu apa yang aku rasakan saat itu. Alhamdulillah....
Berjalan ke arah Masjid Nabawi, di pelataran masjid, tertegun... betapa tidak mempercayai mataku sendiri. Betapa Allah telah mengabulkan doa-doaku.
Tiga bulan lalu, tidak terpikir oleh ku sedikit pun. Uang dari mana bisa berangkat ke sini??.. Kok bisa?... Tidak habis pikir ... Semua proses ini berlalu begitu cepat. Mulai dari dapat pekerjaan. Dengan niat mendapat RidhoNya, sambil proses pekerjaan ini berjalan, aku semakin memperbaiki diriku, ibadahku, shalat fardhu dan sunah, tahajjud dan dhuha, puasa, khataman Quran, sedekah... apa pun asal Allah suka, aku kerjakan dengan yakin. Karena janji Allah jika kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki urusan dunia kita... Allahu Akbar... Allahu Akbar.. Demi Mu Yaa Allah yang Maha Menyaksikan ibadah-ibadahku yang masih jauuuuuuuuuuh dari sempurna, telah Kau buktikan janjiMu padaku... Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya...
Di sujud sepertiga malam saya habiskan untuk berdialog dan sedikit bernegosiasi pada Allah. Sekiranya Allah mengizinkan saya memperoleh hak dari pekerjaan ini, akan saya gunakan untuk ... ini, ini, itu, itu, salah satunya untuk Umroh bersama suami. Dan Allah mengabulkan!
Alhamdulillah.. Dahsyatnya kekuatan doa.. Doa yang penuh keyakinan.
Tapi tau ngga, begitu uang ada di tangan, bergetar saya, menangis... bukan karena senang. Tapi karena takuuut... Karena ada komitmen saya dengan Allah di situ. Kembali lagi saya yakin Allah bersama saya, saya minta dituntun untuk menempatkan uang ini sesuai dengan komitmen saya dengan NYA.
Dan di sinilah saya sekarang, di kota Madinah, bersama suami tercinta. Eraaat kita berdua saling berpegang tangan, seolah berbagi kebahagiaan.
Shalatku, ibadahku, sujudku… dengan penuh air mata. Mendadak cengeng, mendadak manja, mendadak minta perhatian Allah dan Rasulullah. Nikmatnya Yaa Allah… Setiap mata ini menyapu masjid, selalu berdoa dalam hatiku, Yaa Allah, izinkanlah anak-anakku, keturunan-keturunanku kelak, orang tuaku, mertuaku, saudara-saudaraku, semua umatMu melihat apa yang aku lihat sekarang, merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Amiiiiin ….
Di RaudhohMu Yaa Allah…
Salah satu dari taman surgaMu… Beratus bahkan ribuan umatMu setiap saat berebut untuk berdoa, bermunajat di RaudhohMu. Siapa yang tidak mau...? Kesempatan ini ngga akan aku sia-siakan. Kadang pesimis kalau melihat jumlah jamaah wanita dari berbagai negara berkumpul di beberapa pintu menuju Raudhoh. Penuh perjuangan, butuh kesabaran, ikhlas, dan…. Doa. Kembali aku berdoa dan bernegosiasi sama Allah, dengan yakin doaku, “Ya Allah, Allah sudah mengizinkan aku ada di dalam Masjid yang luar biasa agung ini, masa tidak Kau izinkan aku bermunajat di RaudhohMu...? Boleh Yaa Allah…”
Tiba-tiba dari arah kiri saya, suara bergemuruh... jamaah wanita berlarian demi melihat pintu terbuka. Ciuut hati ini, tapi tetap saya gandeng ibu sesama rombongan untuk mencapai karpet hijau tanda memasuki Raudhoh. Lia, mengambil alih pegangan tangan ibunya, dan aku berlari kecil menghampiri Raudhoh, Subhanallah… ada tempat kosong yang kira-kira cukup untuk 5 jamaah shalat di sana.
Lagi-lagi aku merasa dikabulkan doaku oleh Yang Maha Mendengar.. Sambil mengatur nafas, pelan aku berniat dan mengangkat takbir ... AllahuAkbar... Berderai lagi air mata mensyukuri nikmat ibadah ini. Dalam sujud terakhirku, begitu panjaaaang doaku. Selesai salam terakhir, askar wanita sedang sibuk dengan jamaah yang lain, kembali aku bersujud, aku pakai kesempatan emas ini untuk berdoa dan istighfar… Setelah puas, *yang rasanya tidak akan pernah puas...* Aku tengok kanan kiri, askar sedang membelakangi saya… Wah, kesempatan emas lagi... lagi-lagi sujud aku berdoa… teringat titipan-titipan doa dari saudara, adik, kakak, sahabat... dan calon pemimpin negeriku. Negeri Indonesia yang sudah semakin tidak jelas ke mana arahnya, semoga suatu hari nanti dipimpin oleh pemimpin yang berotak German, berhati Ka’bah, lalu saya menyebutkan nama. *Tidak akan saya sebutkan disini, nanti disangka kampanye.. hehehe ..* Dan selalu berdoa, ya Allah izinkanlah anak-anakku, keturunanku, orang tua, dan mertuaku, saudara-saudaraku, seluruh umatMu bersujud dan bermunajat di RaudhohMu sebagaimana Allah izinkan aku saat ini. Amiiin…
Umrohku kali ini umroh plus plus… Plus honeymoon maksudnya. Dasarnya niat untuk ibadah berdua suami supaya makin mesra, setelah banyaknya permasalahan mendera kami, Allah kasih bonus buat saya, selalu saya dapat kamar yang bagus-bagus... sekelas suit room… Inna amalu binniyyat… ^_^
Boys.. Mom Dad honeymoon dulu ya … be nice okay?! ... ;)
Meninggalkan Madinah… Nangiiiiisss lagiiiiiiii
Ah, ngga akan pernah cukup waktu di sini, terlalu nikmat di kota Nabi.. terlalu indah. Jujur saya merasakan hal yang sangat berbeda antara di kota Madinah dan Makkah. Di Madinah saya merasakan kelembutan Rasulullah, serasa saya berkunjung ke salah satu tuan rumah yang terlembut hatinya. Dan saat-saat saya berdzikir dan berdoa saya merasa 'Dikunjungi'.. serasa dibelai, dirangkul, disayang, dimanja. Indaaaaah sekali.
Pagi terakhir (saat itu) di Madinah, setelah sarapan, mandi.. berdandan cantik… ;) Pukul 8 ringan kaki aku langkahkan menuju masjid. Dengan niat saat itu ingin sendiri, betul-betul ingin menikmati ibadah shalat sunnah sendiri di masjid. Begitui memasuki masjid, sepi terasa, hening.. hanya ada segelintir jamaah bertebaran mengambil jarak yang cukup jauh, aku rasa kita semua saat itu sama, ingin merasakan keheningan ibadah yang sama.
Shalat sunnah Tahiyatul Masjid, dan Syukur Wudhu aku dirikan, dilanjut dengan Shalat Dhuha 8 rakaat… Setiap gerakan shalat, lantunan ayat-ayat suci aku resapi dalam-dalam, dan berusaha memahami maknanya, Subhanallah… bibir, air mata, debaran jantung, qolbuku semua bereaksi, seakan-akan berlomba ingin memperlihatkan kebahagiaan, dan berlomba saling mengucapkan syukur. Di sini... ini maksudku aku merasa ‘dikunjungi’… Betapa nikmatnya ibadahku, serasa didampingi dan dibelai. Betul-betul merasa dimanjakan sebagai tamu.
Selesai shalat, dzikir, aku ambil Al Qur’anku… sebelum membaca, sebentar aku duduk tafakur… Tau ngga...? Yang ada hanya, mataku menyapu pelan-pelan setiap sudut Masjid Nabawi. Mulai dari tiang-tiangnya, pilar tembok bercat belang-belang, ornament emas di setiap ukiran tembok… Mata ini seolah merekam semua yang bisa aku pandang, seperti ingin menyimpan kuat memory, agar sewaktu-waktu nanti di mana pun, aku tinggal pejamkan mata, maka muncul lagi rekaman itu… *I wish I could *.
Lalu perlahan aku memandang kanan kiriku, petugas cleaning service, bekerja dalam hening. Sepertinya mereka sangat menghormati tamu-tamu Allah yang beribadah. Petugas-petugas ada yang melap rak Al Quran, menyapu, pel, vacuum karpet, memasang tali pemisah, mengisi gelas-gelas plastik untuk para jamaah minum air ZamZam, kupandang lagi berisan termos-termos dingin berisi air ZamZam… Ya Allah berkahilah mereka, sayangilah mereka.
Akhirnya, Al Qur’an di tangan hanya sedikit yang aku baca, aku sibuk menikmati pemandangan indah, langit-langit masjid sebagian terbuka, udara pagi sejuk terasa dingin menyapu wajah yang masih basah karena air mata, sinar matahari hangat lembut masuk ke dalam masjid membiaskan warna emas, indaaaah sekali dalam masjid Nabawi ini. Susah untuk diuraikan dengan kata-kata perasaan saat itu. Yang ada, aku tempelkan keningku untuk bersujud, sujud syukurku padaMu.. atas segala kenikmatan ibadah dan kesempatan yang Allah berikan padaku.
"Alhamdulillahiladzi binikmatihi tatimussholihaati, Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatNya akan sempurna segala kebaikan...”
...... next...Masjidil Haram, Makkah.. Masjid yang paling bercahaya di permukaan bola dunia... dan bertemu wanita super....
with my Imam
salah satu sudut di dalam Masjid Nabawi
barisan Zam Zam di dalam masjid. Dingin, segeer, berkahhh..
With Wonder "Diana" Women ... Allah bless u sist
Salam,
Widya Madjid




Tidak ada komentar:
Posting Komentar