Rabu, 27 April 2011

Meet and Greet with Muhammad Assad - Penulis Buku Notes From Qatar


Alhamdulillah, pada hari Kamis,tanggal 7 April 2011, kami berkesempatan mewawancarai Muhammad Assad pada acara Meet & Greet with Assad. Muhammad Assad atau yang biasa dipanggil Assad ini adalah penulis buku Notes From Qatar. Buku Notes From Qatar (“NFQ”) itu sendiri merupakan sebuah buku yang dibuat berdasarkan blog yang dimiliki oleh Assad (http://muhammadassad.wordpress.com) dan sudah dibaca oleh ratusan ribu orang dari berbagai penjuru dunia. Dengan semakin banyaknya permintaan dari para pembaca agar Assad membukukan isi dari blognya, maka akhirnya dengan dibantu oleh penerbit PT Elex Media Komputindo-Kompas Gramedia (melalui Sang Editor yaitu Ibu Tjandra), buku NFQ yang pertama terbit pada Januari 2011 tersebut, sudah dicetak ulang 4 kali sampai awal tahun 2011 ini. Di acara Meet and Greet di Bandung ini saja, buku berhasil terjual kurang lebih 100 buah hanya dalam waktu sekitar 2,5 jam!! Syukur Alhamdulillah…

Kesempatan untuk melakukan wawancara kepada Muhammad Assad, akhirnya terlaksana juga. Saat Bandung masih cerah, Kak Assad beserta rombongan dari Jakarta sampai juga di lokasi acara, kediaman Ibu Tami yang terletak di Jl Setiabudi, sekitar jam 9 pagi. Kak Assad datang juga lho beserta ibundanya, Ibu Revy Tarmidi. Setelah beramah tamah dengan tuan rumah dan panitia, kami berdua dipersilahkan untuk melakukan wawancara (singkaaaat saja) dengan Kak Assad, di sela-sela waktu Kak Assad menikmati hidangan sarapan bersama, karena memang waktu Kak Assad sangat terbatas, berhubung setelah beres acara di Bandung, ternyata Kak Assad harus segera kembali lagi ke Jakarta untuk jadwal-jadwal acara Kak Assad berikutnya. Wow Kak Assad jadi berasa seperti selebritis ya Kak? Berikut adalah petikan hasil wawancara kami berdua.
 
Saat wawancara berlangsung...
Pertanyaan pertama yang kami tanyakan kepada Kak Assad adalah bagaimana sikap pemuda sekarang terhadap agamanya. Karena sekarang banyak sekali remaja atau anak-anak muda yang sikapnya melanggar agama, bahkan anak-anak SMP seperti kami juga ada yang melakukan hal-hal seperti itu. Selanjutnya Kak Assad menjawab dengan langsung, bahwa menurut Kak Assad, setiap orang pasti memiliki agama atau pedoman hidup.  Mereka menjalani agamanya masing-masing. Dan mereka berbeda-beda pula dalam menerapkan dan menjalankannya, karena pelajaran agama yang dimiliki setiap orang dari kecil juga berbeda-beda, sikap mereka dalam menjalankan agamanya sangat dipengaruhi oleh pendidikan agama yang diterapkan di dalam keluarga masing-masing.

Bapaknya Assad berkata, “Pelajaran yang paling utama datang dari keluarga, karena anak-anak itu paling mudah menyerap pelajaran saat masih kecil dan itu adalah tugas keluarga. Bagaimana anak-anak muda Islam bisa belajar agamanya dengan baik ditentukan oleh bagaimana cara orang tuanya mengajarkan agama Islam itu dengan baik kepada anaknya sendiri”, ujar Kak Assad kepada kami.

Jadi memang ternyata, bekal ilmu agama sangat penting ya Kak Assad. Dan semua itu dimulai harus sejak dini atau sejak kecil dan dalam lingkungan keluarga (dan contoh teladan dari orang tua di rumah) seperti kata Kak Assad. Semoga kami ini pun bisa selalu terus belajar dan membekali diri kami masing-masing dengan agama Islam baik yang kami dapat darai rumah maupun sekolah.

Notes From Qatar berisi kumpulan catatan-catatan yang terdapat di dalam blog Kak Assad dan akhirnya dibukukan. Blog Kak Assad sendiri juga sudah dikunjungi banyak orang, dan mendapat tanggapan yang bagus sekali. Selanjutnya kami juga menanyakan pertanyaan tentang blog Kak Assad, “Berapa lama Kak Assad menyiapkan bahan materi untuk ditulis di blog? Dalam 1 minggu atau saat itu juga?

Kak Assad pun menjawab, “Saya memilih menulis di hari Jumat karena kalau di Timur Tengah hari liburnya adalah Jumat dan Sabtu. Pada hari Jumat di Timur Tengah libur, karena kami harus menjalankan shalat Jumat. Memang saya tidak langsung menulis pada saat itu juga, biasanya pada hari Senin saya sudah tahu atau ada ide ingin menulis apa. Beberapa hari sebelumnya saya mulai mencari bahan-bahan yang saya butuhkan untuk materi tulisan tersebut misalnya tentang sedekah, maka saya akan cari terlebih dahulu bahan-bahan pendukung materi tentang sedekah tersebut. Pada hari Jumat barulah saya menulis semua materi tersebut dan menjadikannya sebagai satu buah tulisan yang siap untuk diposting di dalam blog saya tersebut. Semuanya memang membutuhkan proses”. Kak Assad selanjutnya menjelaskan bahwa ia menyiapkan semuanya untuk materi penulisan tersebut biasanya dalam jangka waktu 1 minggu.

Di dalam buku NFQ tersebut, Kak Assad sempat membuat suatu catatan menarik yang berhubungan dengan olahraga sepak bola. Pada saat di Qatar, Kak Assad mendapatkan tiket gratis, free menonton pertandingan bola antara kesebelasan Brazil vs. England. Kami menanyakan apa  perasaannya  pada saat ia akhirnya bisa mendapatkan  tiket gratis nonton  pertandingan sepak bola tersebut. Kak Assad menjawab,“Hal itu sangat amazing dan luar biasa, karena bisa nonton bola di tempat yang nyaman. Semuanya berawal dari niat untuk melakukan atau  mendapatkan sesuatu, selalu tanamkan pada diri kita bahwa kita “BISA, sungguh  karena otak kita akan memproses jalannya keinginan tersebut, hingga kita bisa meraih apa yang kita inginkan .Seperti yang tercantum dalam Alquran, yaitu dalam surat Ar-Raad ayat 11, ”....Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri....”

Salah satu jalan menuju keberhasilan adalah dengan bersedekah. Menurut Kak Assad, dengan melakukan sedekah itu kita berniat membantu orang lain dan kita juga memohon kepada Allah agar niat baik kita dapat dikabulkan, misalnya seperti keinginan yang luar biasa untuk bisa menonton pertandingan bola antara Brazil vs. England waktu itu. Jadi ceritanya, pada saat menonton pertandingan tersebut, Kak Assad melihat didepannya ada tiga buah kursi VVIP yang kosong  dan ia berpikiran, ”Hmmmm… kira-kira kalo aku duduk di situ diusir nggak ya?” Kak Assad  akhirnya mencoba untuk pindah dari tempat duduk sebelumnya ke tempat VVIP tersebut, yang so pasti berasa lebih nyaman, dan ternyata kursi itu memang tidak ada yang menduduki. Sehingga sepanjang pertandingan Kak Assad bis menduduki kursi VVIP tersebut. Keinginan Kak Assad pun akhirnya terwujud untuk dapat duduk di tempat yang lebih nyaman dan pastinya bisa lebih dekat melihat berlangsungnya pertandingan. It’s so amazing bukan?? Kak Assad menjelaskan bahwa kita jangan pernah putus asa dan rajin-rajinlah untuk bisa melakukan sedekah.

Pertanyaan selanjutnya dari kami untuk Kak Assad adalah mengenai rencana kehidupannya setelah menyelesaikan pendidikan S2 nya di Qatar. Kak Assad menjawab, ”Saya akan mencoba bekerja atau mencari peluang usaha dulu di Qatar, sehingga saya bisa mendapatkan pengalaman bekerja di sana dan berhasil, kemudian saya akan pulang kembali ke Indonesia.” Semoga Kak Assad bisa lancar dalam menyelesaikan studi S2nya. Kalau sudah selesai, jangan lupa ya Kak Assad, balik lagi ke Indonesia supaya bisa bersama-sama membangun Negara tercinta kita ini lho…

Pengalaman Kak Assad ini, semoga juga bisa menjadi contoh dan pemicu semangat bagi kami, supaya terus semangat dalam meraih ilmu setinggi mugkin. Jangan pernah kenal apa yang namanya putus asa ya Kak! Menempuh studi dengan beasiswa pun jangan pernah takut berharap. Seperti dikutip dalam buku NFQ, Kak Assad ingin meyakinkan teman-teman bahwa setiap orang pasti bisa mendapatkan beasiswa, asalkan benar-benar berusaha dan selalu gunakan nilai 3P yaitu Positive, Persistence dan Pray (nanti akan kami bahas sedikit di bawah tentang 3P ini yaaa), hingga tujuan tercapai: Ikhtiar – Tawakkal – Doa. Ikhtiar adalah usaha maksimal kita sampai bener-bener mentok tok tok. Tawakkal adalah penyerahan diri kita kepada Sang Penguasa. Dan doa adalah bentuk kehambaan kita yang merasa lemah dan tak mampu berbuat banyak tanpa pertolongan dan izin Allah SWT. Doa juga bisa bermakna beribadah kepada Sang Pencipta.

Selanjutnya, mengutip dari isi buku Kak Assad mengenai konsep atau nilai penting dalam hidup kita “3P’s” yaitu POSITIVE, PERSISTENCE  dan PRAY (selanjutnya 3 hal ini menjadi suatu tagline untuk buku NFQ tersebut). Mengenai 3 hal ini bisa kami paparkan dengan mengutip dari bukunya Kak Assad tersebut yaaa…
Nilai 3P’s

1. Positive

Sikap pertama kali yang harus ditanamkan dan dibangun ya yakin pasti bisa! Bukankah Allah SWT sendiri yang bilang bahwa “Aku adalah seperti apa yang hamba-Ku sangkakan kepada-Ku”. Jadi semua tergantung dan berawal dari pikiran kita. Niat yang positif akan membuat langkah kita selanjutnya menjadi positif juga.

Berpikir positif bukan hanya saat di awal, namun hingga tujuan tercapai. Misalkan dalam perjalanan terjadi hal-hal yang di luar keinginan kita, jangan langsung berpikiran buruk kepada Allah SWT, karena yakin Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Akhirnya, ingat selalu ayat ini agar tidak pernah berburuk sangka kepada Sang Maha Pencipta

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-baqarah [2] : 216)

2. Persistence

Nilai kedua adalah Persistence, atau terus menerus berusaha dan jangan menyerah. Mantan Presiden Afrika Selatan pernah mengatakan, “The greatest glory in living lies not in never falling, but in rising every time we fall.” Inilah yang disebut persistence, atau seperti bulldozer yang terus bergerak sampai tujuan mendapatkan beasiswa tercapai. Kalo gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi! Gagal itu biasa, tapi meratapi kegagalan itu yang tidak biasa.

Kak Assad sependapat dengan apa yang disampaikan oleh mantan PM Inggris, Sir Winston Churchill, “Success is going from one failure to another failure without losing enthusiasm”. Kak Assad merasa ini sangat relevan dan berlaku di mana saja, misalnya cerita tentang Thomas Alfa Edison pun baru berhasil menemukan lampu di percobaannya yang ke 1000! Coba bayangkan kalo di percobaan ke 700 dia sudah menyerah, bisa jadi kita masih hidup dalam kegelapan hingga sekarang ini.

3. Pray

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60).

Doa adalah senjata orang beriman. Bahkan dalam salah satu hadits disebutkan bahwa doa adalah otak / pangkalnya ibadah. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong”. Maksudnya, jika ingin sesuatu tapi tidak berusaha, ya mustahil. Tidak ada yang jatuh dari langit secara cuma-cuma. Istilahnya, “no free lunch, man!”

Sebaliknya, jika berusaha saja tanpa berdoa kepada Sang Pencipta, maka itu suatu kesombongan. Karena seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya. Sehelai daun jatuh pun atas izin-Nya, apalagi untuk mendapatkan beasiswa! Kalaupun misalkan kita merasa berhasil mendapatkan sesuatu tanpa pertolongan Allah SWT, maka percayalah bahwa hasil yang diperoleh tidak akan membawa berkah.

Kesombongan hanya boleh dimiliki oleh Allah SWT. Orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya adalah orang yang sombong dan Allah SWT murka kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, ““Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi).

Kami merasa 3 nilai tersebut sangat penting untuk dapat diterapkan dalam keseharian kita. Terima kasih Kak Assad, sudah mau berbagi pengalaman dan ilmunya melalui catatan-catatan dalam blognya, yang akhirnya Alhamdulillah bisa diwujudkan dalam bentuk buku NFQ tersebut. Semoga, kami juga bersama teman-teman semua bisa melakukan 3 nilai tersebut, POSITIVE, PERSISTENCE  dan PRAY, supaya kami pun bisa berhasil nantinya. It’s soooo inspiring Kak Assad!!

Demikianlah hasil wawancara kami dengan Muhammad Assad, kami sangat berterimakasih kepada beliau yang telah memberikan waktunya untuk dapat berbagi pengalaman dan ilmunya (kepada kami berdua yang masih muda ini hihi… pastinya akan bermanfaat banget kesempatan mendapatkan sharing langsung dari Kak Assad tersebut, syukur Alhamdulillah juga kepada Allah tentunya atas kesempatan berharga tersebut! Jadi ingat terus niiih dengan 3P. Semangaaat…). Jangan lupa Kak Assad, kalau nanti ada liburan lagi, jangan lupa mampir ke sekolah kami Mutiara Bunda Bandung yaaa, supaya teman-teman juga guru-guru kami semua bisa juga mendapatkan kesempatan bertemu dan sharing bersama Kak Assad (hehe ditunggu jadwal liburannya ya Kak Asad, pasti makin seru dengan cerita dan pengalaman Kak Assad lainnya yaaa…). Dan tentunya kami juga ingin mengucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya kepada Majelis Tafakur Mutiara Tauhid serta SMP Mutiara Bunda yang telah memberikan waktu, kesempatan dan izin kepada kami untuk dapat melakukan wawancara ini.

Apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyampaian dalam penulisan ini, kami berdua menghaturkan maaf, karena pastinya suatu kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah SWT. Semoga tulisan ini akan membawa manfaat bagi kita semua yaaaa…

Wassalam,
Rahma Haura Alifa dan Muhammad Galang Alfaza
(Siswa kelas 7 SMP Mutiara Bunda)
 
 
Setelah beres wawancara, pasti doong foto bareng Kak Assad
buat “barbuk” alias barang bukti hihihi….
 
 Saat acaranya berlangsung niih.. Kak Assad jadi narasumbernya!
 
 
Saat berlangsungnya book signing, hebaat sekitar kurang lebih 100 buku
ludes terjual dalam acara ini. Alhamdulillah….

4 komentar:

  1. Rahma and Galang terima kasih ya dah mau sharing di blog sahabattaat. Tulisannya keren dan very inspiring. Sekali lagi terima kasih.

    BalasHapus
  2. tulisan keren, sangat jelas dan bahasanya juga sederhana....ditunggu ulasannya yang berikutnya, dengan narasumber yang lain yaaa.....

    tetap semangat......

    BalasHapus
  3. terima kasih ya,,,ini sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. wah Q juga mau dong mewawancarai Kak Assad, bagus bukunya..
    makasi ya uda sharing

    BalasHapus